ARSIP 21/09: SAAT PADANG MENARIK GARIS BATAS

Arsip Perlawanan | Peristiwa: 21 September 2024 | Lokasi: Padang

Barisan massa aksi membelah jalanan Khatib Sulaiman. Dok: HIMASHI UNAND

Debu di aspal Khatib Sulaiman mungkin sudah hilang tersapu hujan. Namun, suara yang diteriakkan pada Minggu pagi, 21 September lalu, menolak untuk pudar.

Hari itu, Padang tidak sedang merayakan pesta pora. Di tengah hiruk pikuk Car Free Day, puluhan anak muda yang tergabung dalam aliansi Draw The Line memilih untuk mengganggu kenyamanan. Mereka turun ke jalan bukan untuk mencari keringat, tapi untuk menggugat sebuah sistem yang sedang membunuh masa depan mereka secara perlahan: Kecanduan Energi Kotor.

Ini bukan berita baru. Ini adalah pengingat bahwa dua bulan setelah aksi ini digelar, mesin-mesin perusak iklim itu masih bekerja, dan para pengambil kebijakan masih menutup telinga.

GUGATAN DI DEPAN PENGUASA

Dari depan Bank Indonesia hingga Jembatan Balung, massa aksi yang terdiri dari HIMASHI UNAND, IYG, dan XR Padang ini membawa pesan yang tidak bisa ditawar.

Di depan gerbang kekuasaan, orasi dilantangkan. Bukan sebagai permohonan, tapi sebagai ultimatum. MHD. Abdul Afwan, mewakili suara yang terpinggirkan, menarik garis tegas di aspal—memisahkan mereka yang ingin hidup, dengan mereka yang mengeruk laba dari kerusakan.

“Ini adalah garis batas antara MASA DEPAN KAMI dan KEUNTUNGAN KALIAN!”

Tuntutannya jelas: Pensiunkan PLTU Ombilin dan Teluk Sirih. Alihkan subsidi energi kotor ke energi bersih berbasis komunitas. Rakyat butuh solusi, bukan polusi yang dibungkus janji manis transisi energi.

Orasi politik menolak hegemoni energi kotor. Dok: HIMASHI UNAND

MENOLAK MENJADI ELITIS

Gerakan lingkungan sering dituduh elitis dan berjarak dari rakyat. Namun arsip foto hari itu membantahnya.

Aksi ini tidak eksklusif. Para mahasiswa duduk di aspal, berdialog dengan ibu-ibu pengunjung CFD, menjelaskan bahaya krisis iklim dengan bahasa pasar, bukan bahasa jurnal ilmiah.

Lembar kain putih digelar di jalanan. Di sana, para warga, mulai dari anak kecil hingga orang tua membubuhkan tanda tangan. Itu bukan sekadar tinta, itu adalah mandat rakyat yang selama ini diabaikan dalam dokumen AMDAL dan rapat-rapat tertutup pemerintah.

MELAWAN LUPA

Dokumen ini diunggah kembali sebagai arsip perlawanan. Bahwa pada 21 September 2024, anak muda Padang pernah memberi peringatan keras.

Jika hari ini banjir masih merendam, jika panas semakin menyengat, dan jika penguasa masih diam—maka ingatlah: Kami sudah pernah memperingatkan.

Dan kami akan kembali dengan gelombang yang lebih besar.