PERSPEKTIF | Perempuan dan Lingkungan | Sumatera Barat
9 Maret 2026
Oleh: Dhita Noviana
Bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia pada 8 Maret lalu, ibu-ibu perwakilan masyarakat Nagari Kasang, Kabupaten Padang Pariaman, turun ke jalan. Didampingi oleh Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) dan elemen masyarakat lainnya, mereka menggelar aksi di depan kantor DPRD Provinsi Sumatera Barat.
Tujuan mereka hanya satu, namun sangat fundamental: memperjuangkan ruang hidup yang kian terancam oleh eksploitasi tambang andesit di kampung halaman mereka.
Penerbitan izin tambang andesit ini bukanlah sekadar urusan administratif di atas meja birokrasi, melainkan pembuka gerbang bagi malapetaka lingkungan.
Operasi tambang yang digawangi oleh PT Dayan Bumi Artha (DBA) ini secara langsung memicu pencemaran air hingga udara. Bagi masyarakat Nagari Kasang, aktivitas ekstraktif ini berujung pada penyusutan drastis ruang hidup yang layak dan sehat. Alam yang dulunya menjadi sumber penghidupan, kini diubah menjadi titik komodifikasi yang mengancam keselamatan warga.
Dalam setiap krisis ekologis, perempuan selalu menanggung beban yang paling berat. Kerusakan lingkungan hidup di Nagari Kasang bukanlah pengecualian.
Pencemaran akibat tambang andesit memicu krisis sanitasi yang buruk. Kondisi ini berujung pada efek domino yang memukul keseharian perempuan: mulai dari kesulitan memastikan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga, hingga ancaman serius terhadap kesehatan reproduksi. Belum lagi beban psikologis dan fisik dalam memastikan kelangsungan hidup sehari-hari bagi anak-anak mereka di tengah lingkungan yang terus terpapar polusi.
Para pejuang perempuan Nagari Kasang ini mendobrak stigma bahwa politik dan pergerakan hanya milik kaum elite. Mereka membuktikan bahwa perubahan besar seringkali lahir dari hal yang paling murni: rasa kasih seorang ibu.
Mereka datang jauh-jauh dari Padang Pariaman ke pusat kekuasaan di Kota Padang untuk menuntut hak dasar manusia, yaitu kehidupan yang layak, nyaman, dan tenang bagi buah hati serta keluarga mereka. Aksi ini menjelaskan kepada kita satu hal krusial bahwa perjuangan menjaga lingkungan hidup selalu lahir dari masyarakat yang paling dekat dengan denyut kehidupan sehari-hari.
Para ibu adalah pihak pertama yang merasakan langsung dampak dari kerusakan alam. Oleh karena itu, aksi di depan DPRD tersebut tidak hanya bisa dimaknai sebagai demonstrasi politik semata, melainkan sebuah perjuangan nyata untuk mempertahankan nyawa kehidupan.
Lebih jauh, aksi hari itu adalah manifestasi dari teriakan masyarakat atas permasalahan ekologis struktural yang tak pernah menemui titik penyelesaian. Kebijakan-kebijakan eksploitatif pemerintah yang pada akhirnya berdampak pada bencana ekologis dan memakan korban jiwa, haruslah terus disuarakan untuk dibinasakan.
Dalam kecamuk narasi raksasa bernama “pembangunan”—entah itu dibungkus dengan dalih investasi, percepatan infrastruktur, atau peningkatan ekonomi—suara-suara perempuan Nagari Kasang memberikan peringatan yang sangat keras: Pembangunan sudah seharusnya tidak mengorbankan kehidupan masyarakatnya sendiri.
Peristiwa ini menjadi sebuah refleksi mendalam bagi kita semua. Perjuangan radikal justru lahir dari kepedulian yang paling sederhana akan keberlanjutan hidup. Dan perjuangan itu, harus terus dirawat melalui banyak tangan, melalui banyak cara, dan melalui banyak gandengan tangan.
(Tulisan ini adalah kiriman dari kontributor. Pandangan di dalam naskah sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis).