Sesat Pikir "Vox Populi": Kritik untuk Narasi KDM Andalas dan Matinya Pengorganisiran di Unand

Dialektika Kampus | 28 September 2024 | Limau Manis, Padang

Sebuah unggahan dari akun @kdm.andalas (Kelompok Demokrasi Mahasiswa Andalas) baru-baru ini cukup menggelitik nalar kritis kita. Dengan tajuk mentereng “Vox Populi Vox Dei” (Suara Rakyat adalah Suara Tuhan), mereka mencoba mendiagnosis penyakit kronis di Universitas Andalas: apatisme mahasiswa dan kegagalan sistem politik kampus.

Namun, saat membaca analisis tersebut sampai akhir, rasanya ada yang tidak nyambung. Ada lompatan logika yang berbahaya. KDM Andalas dengan tepat memotret bahwa apatisme dipicu oleh buruknya sistem dan kebijakan yang tidak relevan. Namun sayangnya, solusi yang mereka tawarkan justru terdengar naif, sebab menggantungkan harapan dan tanggung jawab pada “Presma Terpilih” untuk memulihkan kesadaran politik dan marwah demokrasi.

Narasi ini perlu dikritisi karena menyimpan setidaknya dua kecacatan berpikir yang fatal bagi masa depan gerakan di Limau Manis.

1. Menunggu Ratu Adil di Tengah Sistem yang Sakit

Sangat kontradiktif ketika kita sepakat bahwa sistem politik kampus sedang “sakit”, namun kita berharap obatnya datang dari satu-dua sosok elit (Presma/Wapresma). Narasi @kdm.andalas seolah melanggengkan Messianic Complex (mentalitas menunggu juru selamat). Kita lupa, siapapun Presma yang terpilih bahkan jika kapasitasnya tidak perlu diragukan sekalipun, ia tidak akan punya legitimasi politik yang kuat jika tidak ditopang oleh basis massa yang terorganisir. Berharap pimpinan BEM bisa mengubah kultur apatisme tanpa adanya gerakan kolektif dari bawah adalah utopia.

2. Jebakan “Mobilisasi”, Lupa “Pengorganisiran”

Kritik paling mendasar untuk narasi KDM Andalas dan “aktivis kampus” Unand hari ini adalah ketidakmampuan membedakan antara Mobilisasi dan Pengorganisiran (Organizing). Apa yang dilakukan setiap Pemira hanyalah mobilisasi. Tindakan ini sifatnya dadakan, reaktif, dan hanya terjadi saat butuh suara. Mahasiswa dibujuk ke TPS, dipaksa peduli dalam semalam, lalu ditinggalkan begitu penghitungan suara selesai.

Pertanyaan besarnya: Siapa yang melakukan kerja-kerja pengorganisiran? Siapa yang dengan sadar melakukan kerja penyadaran (conscientization) dan penjaringan kader sepanjang tahun? Siapa yang turun ke kantin, asrama, dan kos-kosan untuk mendengar keresahan mahasiswa, lalu merajutnya menjadi kekuatan politik?. Jawabannya, hampir tidak ada. Atau kalaupun ada, gaungnya kalah oleh birokrasi proker BEM yang elitis.

3. Evaluasi Total Gerakan
Alih-alih menyalahkan mahasiswa yang diam atau berharap pada mandat Presma semata seperti yang disiratkan @kdm.andalas, mari kita evaluasi diri sendiri. Apa yang selama ini sudah kita lakukan untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa?. Seberapa efektif upaya tersebut?.

Apatisme mahasiswa Unand bukan penyakit bawaan, itu adalah hasil dari gerakan mahasiswa yang gagal hadir secara relevan. Kita terlalu sibuk berpolitik di “langit-langit” PKM dan lupa membumi ke “lantai-lantai” fakultas. Jika kita ingin mengubah apatisme menjadi keterlibatan, berhentilah berharap pada pemimpin formal. Mulailah melakukan kerja-kerja pengorganisiran yang sunyi namun nyata. Tanpa itu, kutipan “Vox Populi Vox Dei” yang diposting KDM Andalas hanyalah jargon kosong di menara gading.