How Bad Can We Be?: Menyaksikan Thneedville dan Lorax yang Dibungkam di Indonesia

“How bad can I be? I’m just doing what comes naturally… How bad can I be? I’m just expanding my business!”

Kalimat tersebut dinyanyikan oleh Once-ler, tokoh dalam film animasi The Lorax (2012) yang terobsesi membabat habis Pohon Truffula demi keuntungan bisnisnya. Di balik visualnya yang cerah dan lagu-lagunya yang jenaka, film ini sebenarnya menceritakan kisah kelam tentang asal-usul sebuah kota yang kehilangan seluruh hutan alamnya. Hasil dari keserakahan industri itu sangat nyata: ekosistem hancur, sungai tercemar, dan satwa-satwa terusir dari rumahnya sendiri. 

Terasa familiar? Logika kapitalisme ekstraktif yang mengkomodifikasi alam demi profit setinggi-tingginya tanpa memikirkan daya dukung lingkungan adalah cerita sehari-hari kita. Kita tidak lagi menyaksikan penderitaan Thneedville dari balik layar monitor, sebab kita telah menjadi figuran di dalamnya. Sudah berapa musim kemarau paru-paru kita diisi kabut asap Karhutla? Berapa kali banjir bandang meremukkan pemukiman warga? Keserakahan ekonomi dan deforestasi skala besar di negeri ini digerakkan oleh logika yang persis sama dengan Once-ler.

Warga kota Thneedville membeli galon dispenser berisi udara bersih berbayar kemasan O'Hare Air.
Ujung dari kepunahan pohon: Ketika udara bersih menjadi komoditas bisnis berbayar bagi warga Thneedville dalam film The Lorax (2012). Dok. Illumination Entertainment / Universal Pictures.

Logic Once-ler: Ketika Bisnis Membutakan Akal Sehat

Karakter Once-ler adalah simbol nyata dari industri ekstraktif dan oligarki. Atas nama pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja, dan kemajuan industri, ia membenarkan pembabatan hutan. Cara pandang yang serakah ini membuat manusia merasa paling berkuasa. Alam tak lagi dianggap sebagai ruang hidup bersama, melainkan barang dagangan yang bebas dikuras habis.

Once-ler muda tersenyum puas menyandarkan kapak di pundaknya di balik tunggul pohon Truffula yang baru ditebang.
Once-ler merasionalisasi penebangan pohon pertama demi merintis akumulasi modal. Dok. Illumination Entertainment.

Logika bisnis Once-ler mencerminkan pola pikir para pemegang konsesi sawit, tambang batu bara, dan industri kayu di Indonesia. Demi margin keuntungan jangka pendek, mereka abai terhadap ambang batas lingkungan. Pemaksaan ekspansi tanpa kendali ini bermuara pada deforestasi masif, bencana iklim, dan ketidakadilan sosial bagi warga lokal yang harus menanggung kerusakannya.

Tumpukan kayu gelondongan hasil penebangan hutan ditambatkan di tepi sungai kawasan pedalaman Kalimantan Barat.
Eksploitasi kayu skala masif di pedalaman Kalimantan Barat yang menguras tutupan hutan alami. Foto: Josh Estey/AusAID, CC BY 2.0 https://creativecommons.org/licenses/by/2.0, via Wikimedia Commons

Mitos Kejahatan Liar: Kejahatan Ekologis yang Diresmikan Negara

Mitos terbesar dalam krisis lingkungan adalah anggapan bahwa kerusakan alam semata-mata disebabkan oleh aktivitas ilegal atau “oknum liar”. Padahal, eksploitasi skala besar justru kerap dilindungi oleh izin resmi dan regulasi negara. Hal ini ditegaskan dalam Laporan Status Deforestasi di Indonesia (STADI) 2025 yang dirilis oleh Yayasan Auriga Nusantara. Laporan tersebut mencatat bahwa sekitar 58% deforestasi di Indonesia berlangsung secara legal di dalam area konsesi hutan (PBPH), tambang, dan perkebunan sawit. Sebagaimana dititikberatkan oleh Ketua Yayasan Auriga Nusantara, Timer Manurung, penurunan angka deforestasi ilegal sebenarnya diiringi oleh pergeseran menuju deforestasi legal akibat kebijakan dan regulasi yang kurang berpihak. 

Pemandangan udara jalan koridor tanah konsesi kayu membelah lebatnya kanopi hutan hujan tropis di Kalimantan Timur.
Jalan koridor penebangan yang membelah hutan tropis Kalimantan Timur, membuktikan deforestasi terstruktur di bawah payung izin konsesi. Foto: Aidenvironment, 2005, CC BY-SA 2.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0, via Wikimedia Commons

Angka ini mengkonfirmasi kenyataan pahit: hancurnya ruang hidup masyarakat bukanlah kecelakaan terisolasi, melainkan pengrusakan sistemik yang diresmikan oleh instrumen hukum. Ketika lembar izin dijadikan perisai untuk mengeruk alam, hukum telah kehilangan fungsi utamanya sebagai pengayom kehidupan dan berubah menjadi penjamin kelangsungan ekstraksi yang merusak.

Karhutla: Mencari Efisiensi, Mengorbankan Nyawa

Eksploitasi skala industri selalu didorong oleh pengejaran efisiensi ekstrem. Dalam The Lorax, Once-ler menggunakan mesin pemotong otomatis untuk merobohkan pohon secara cepat. Di Indonesia, “jalan pintas” murah itu bernama Pembakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Metode membakar hutan dipilih korporasi untuk pembersihan lahan (land clearing) karena jauh lebih menghemat anggaran ketimbang metode mekanis. Namun, efisiensi finansial korporasi ini harus dibayar mahal oleh rakyat. Ekosistem gambut yang hancur melepaskan emisi karbon masif dan memicu bencana kabut asap. Langit yang memerah pekat, jutaan anak terserang ISPA, dan satwa endemik yang terbakar hidup-hidup adalah bukti bagaimana korporasi secara sadar mengeksternalisasi biaya ekologis demi menumpuk kekayaan.

Petugas pemadam kebakaran hutan menyemprotkan air ke bara gambut yang terus mengeluarkan asap pekat di Kalimantan Tengah.
Jejak pembakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah: Efisiensi biaya pembukaan lahan korporasi yang dibayar dengan krisis kesehatan publik. Foto: DenY Krisbiyantoro, CC BY-SA 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, via Wikimedia Commons

Pembungkaman “Lorax” di Dunia Nyata

“I speak for the trees, for the trees have no tongues!”

Melalui seruan ikonik tersebut, Lorax hadir sebagai penyeimbang moral yang menyuarakan hak alam yang tak bisa berbicara. Di Indonesia, figur Lorax tidak berwujud makhluk gaib, melainkan dihidupi oleh masyarakat adat, komunitas lokal, serta para pejuang lingkungan.

Karakter Lorax bertubuh oranye berdiri di samping tunggul kayu pohon Truffula sambil mengangkat tangan membela hak-hak alam.
“I speak for the trees”: Kehadiran Lorax sebagai penyeimbang moral di hadapan industri ekstraktif. Dok. Illumination Entertainment.

Tragisnya, sebagaimana Once-ler mengabaikan Lorax, suara para penjaga alam di Indonesia konsisten dibungkam. Masyarakat adat yang mempertahankan tanah leluhurnya dari gempuran konsesi justru diintimidasi, diusir, atau dikriminalisasi dengan stempel “penghambat investasi”. Ketika negara dan modal berkolaborasi, garis pertahanan terakhir kelestarian alam dimatikan secara perlahan.

mengais rejeki di tanah sendiri. suku dayak di hutan kalimantan barat
Lorax di dunia nyata: Masyarakat adat yang tersingkir dari ruang kelola ulayatnya akibat ekspansi industri ekstraktif. Foto: Tyok-foldingbike, CC BY-SA 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, via Wikimedia Commons

UNLESS”: Wasiat Terakhir Sebelum Pohon Terakhir Tumbang 

Di akhir cerita, Lorax meninggalkan pahatan satu kata di atas batu: “UNLESS”.

“UNLESS someone like you cares a whole awful lot, nothing is going to get better. It’s not.”

Kata tersebut terasa seperti batas tegas antara keputusasaan dan keberanian. Alam yang hancur tidak akan pulih dengan sendirinya selama keserakahan ala Once-ler dibiarkan tanpa perlawanan. Batu tersebut menyerahkan tanggung jawab ekologis kembali kepada kita.

Pahatan kata UNLESS pada monumen batu yang ditinggalkan Lorax di tanah tandus bekas pabrik Thneedville.
Pahatan kata “UNLESS”: Batas tegas antara keputusasaan dan panggilan untuk bertindak menyelamatkan bentang alam. Dok. Illumination Entertainment / Universal Pictures.

Jangan sampai kita menunggu pohon terakhir tumbang dan terpaksa membeli udara segar dalam kemasan seperti warga Thneedville, baru kita tersadar bahwa bumi yang kita pijak sedang sekarat.

✓ TAUTAN ARTIKEL BERHASIL DISALIN!

REPUBLIKASIKAN ARTIKEL INI

Aturan Sindikasi: Dilarang mengubah substansi tulisan, wajib menyertakan nama penulis dan tautan rujukan ke Pinggir.xyz, serta hanya untuk penggunaan non-komersial (CC BY-NC 4.0).
Nurul Qariati Fadila
Nurul Qariati Fadila
Articles: 1

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *