Dhita Noviana | 30 Januari 2026 | Padang
Hari-hari nan meluap
Dalam keping-keping usang
Dalam malam-malam penuh peluh sia-sia
Dalam puing-puing harapan
Kita berpegang tangan
Berpegang tangan pada yang mungkin dapat melegakan dahaga
Entah zat-zat berbahaya
Atau sekedar raungan manis pada semesta
Ketika siang
Kita bagaikan domba yang dikejar anjing gembala
Berdansa kiri kanan
Sembari berharap bahwa akan datang pangeran kuda putih menawarkan tumpangan
Domba-domba yang selalu berharap
Akan makanan yang tinggal ditelan
Akan rumah yang layak ditinggali
Lalu kita bisa menyalahkan siapa?
Lalu kita dapat mengadu pada siapa?
Semuanya menggonggong
Bahwa inilah akibat
Akibat kekurangan peluh dalam usaha
Akibat penundaan bangun pagi
Lalu siapa yang akan bicara soal kuasa?
Lalu siapa yang berani mengaku berkhianat?
Tak ada.
Karena tenggorokannya penuh dengan pakan
Atau kepalanya sudah menempel dengan baja besi
Lalu siapa yang berani bicara?
Tak ada.
Karena untuk bernafas saja kita harus membayar
Mati. Pada akhirnya mati.
Entah mati karena eksploitasi
Atau mati karena fantasi.